SUMEDANG

Asal usul kata "Sumedang" berasal dari bahasa Sunda. "Su" bermakna air atau air terjun, sedangkan "Medang" berarti dataran tinggi. Jadi, Sumedang bisa diartikan sebagai dataran tinggi yang dikelilingi oleh sungai atau air terjun.

 Kerajaan Sumedang Larang (aksara Sunda: ᮊᮛᮏᮃᮔ᮪ ᮞᮥᮙᮨᮓᮀ ᮜᮛᮀ) adalah salah satu kerajaan Islam di pulau Jawa bagian barat yang berdiri pada tahun 721 M. Kerajaan ini sudah berdiri sejak abad ke-8 Masehi, tetapi baru menjadi sebuah negara berdaulat di abad ke-16 Masehi.[2][3] Popularitas kerajaan ini tidak menonjol sebagaimana kerajaan Demak, Mataram, Banten dan Cirebon dalam literatur sejarah kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Namun keberadaan kerajaan ini memberikan bukti sejarah yang sangat kuat pengaruhnya di kalangan orang Sunda dalam proses penyebaran agama Islam, sebagaimana yang dilakukan oleh Kerajaan Cirebon dan Kesultanan Banten.[4][5]


Kerajaan Sumedang Larang

ᮊᮛᮏᮃᮔ᮪ ᮞᮥᮙᮨᮓᮀ ᮜᮛᮀ (Aksara Sunda)

721–1620

Ibu kota

Citembong Girang (721–980)

Ciguling (980–1529)

Kutamaya (sekarang Sumedang) (1529–1585)

Dayeuh Luhur (1585–1610)

Tegal Kalong (1610–1620)

Bahasa yang umum digunakan

Sunda Kuno, Sunda Klasik

Agama

Islam

Pemerintahan

Monarki

Prabu

 

• 900

Prabu Guru Adji Putih

• 1529

Ratu Pucuk Umun/Nyi Mas Ratu Dewi Inten Dewata/Nyimas Setyasih

• 1579–1601

Prabu Geusan Ulun

• 1601–1620

Prabu Suriadiwangsa (anak Prabu Geusan Ulun dengan Putri Harisbaya)

Sejarah

 

• Berdiri sebagai bagian dari Kerajaan Sunda dan Galuh

721

• Menjadi bagian Kesultanan Cirebon

1530

• Peristiwa Harisbaya, menjadi negara berdaulat

1585

• Bergabung dengan Kesultanan Mataram[1]

1620

Mata uang

Uang emas dan perak

Didahului oleh Digantikan oleh

krj Sunda

ksl Cirebon

ksl Mataram

 

Sekarang bagian dari

 Indonesia

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

kampung pangkalan

Tahun berdirinya kerajaan SUMEDANG